Judul : Taiko
Penulis : Eiji Yoshikawa
Tanggal Terbit : Oktober 2012
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 1.144 halaman
Bagaimana jika seekor burung tak mau bernyanyi?
Nobunaga menawab, "Bunuh saja!"
Hideyoshi menawab, "Buat burung itu ingin berkicau."
Nobunaga menawab, "Bunuh saja!"
Hideyoshi menawab, "Buat burung itu ingin berkicau."
Ieyasu menawab, " Tunggu."
Demikianlah sajak yang mewakili jalan tiga pemimpin besar pada saat mereka membawa Jepang menuju masa kejayaannya. Ketiganya lahir pada masa perang sipil di Jepang, masa yang penuh pertumpahan darah, tipu muslihat dan penghiatan.
Buku ini menceritakan tentang perjalanan Toyotomi Hideyoshi, sang Taiko. Selain Hideyoshi, terdapat dua tokoh yang lainnya yang mempunyai mimpi yang sama dengan Hideyosi -memimpin seluruh Jepang. Mereka adalah Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya mempunyai latar belakang yang berbeda dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda pula. Sajak tentang seekor burung yang tidak mau bernyanyi sangat tepat dalam mewakili jalan yang akan ditempuh ketiganya.
Hideyoshi adalah anak seorang samurai miskin dari desa kecil di provinsi Owari, Nakamura. Ayahnya merupakan pengikut ayah Nobunaga. Ibunya tidak menginginkan dia mengikuti jejak ayahnya akan tetapi dia tetap ingin menjadi samurai, tidak perduli apapun yang menghalanginya. Hideyosi berbadan kurus dan memiliki wajah seperti monyet sehingga orang-orang sering memanggilnya dengan monyet. Kehidupan yang penuh derita membawanya bertemu dengan junjungan yang paling dia hormati. Junjungan tersebut adalah Oda Nobunaga.
Nobunaga adalah putra penguasa Owari. Nobunaga memiliki watak ekstrim, penuh karisma, tetapi brutal. Dia adalah seorang yang sangat ahli membuat orang tunduk dengannya lewat peperangan. Kepada dia lah Hideyoshi mengabdi, dari menadi pelayan hingga menjadi Jendralnya. Dia adalah pemimpin yang berani bermimpi menyatukan semua bansa di Jepang dan berperang untuk mewujudkannya. Jalan yang dipilihnya sering bertentangan dengan keinginan orang dan menimbulkan penderitaan, tetapi setelah penderitaan itu timbul kebahagiaan.
Peperangan yang dilalui oleh Nobunaga dan Hideyosi mempertemukan mereka dengan Ieyasu. Pemimpin klan Tokugawa yang menghabiskan masa mudanya sebagai sandra bagi provinsi lain, berkat Oda Nobunaga dia bisa kembali ke provinsi asalnya dan mulai mempersiapkan wilayahnya menghadapi arus perubahan. Kehidupan sebagai sandra membentuk Ieyasu menjadi seorang pemimpin yang sabar. Sikapnya sama seperti orang tua yang telah banyak memakan banyak asam garam meskipun usianya masih muda, lebih muda dibanding Hideyshi dan Nobunaga.
Ketiganya saling bahu membahu, membantu Nobunaga menaklukan banyak wilayah di Jepang. Kekusaan Nobunaga semakin luas hingga ke Barat. Tetapi wilayah yang ditaklukan juga ditak sepenuhnya tunduk. Bahkan pengikut yang dianggap paling setia pun mau melakukan penghianatan. Hanya mereka yang dapat merasakan arah angin perubahan yang dapat memilih pihak yang akan menang.
Hideyosi yang bisa membuat burung berhasil menyatukan seluruh Jepang dan membawa Jepang ke suatu masa yang disebut sebagai masa keemasan.Dia berubah dari seorang anak samurai miskin menjadi penual jarum, pelayan, samurai, hingga akhirnya menjadi sang Taiko - penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Perjalanan Hideyosi diceritakan dengan sangat menarik dan penuh dengan nilai-nilai moral yang disisipkan dengan sangat cerdas pada tiap percakapan maupun cerita tentang kejadian yang dialami para tokoh. Membaca buku ini tetunya memerlukan banyak watku karena cerita nya sangat panang, tetapi cerita tersebut sangat menarik dan waktu yang tersita pasti tidak akan sia-sia karena pelajaran yang diperoleh dari novel ini sangat banyak.
Resensi buku/novel oleh Erwin Manurung
Resensi buku/novel oleh Erwin Manurung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar