Senin, 25 April 2016

Tenggelam Tapi Tak Hilang


Judul                      : Rashomon Gate
Penulis                   : Ingrid.J.Parker
Tanggal Terbit        : Juli 2010
Penerbit                 : Kantera
Tebal Halaman      : 576 halaman

   Sugawara Akitada, seorang samurai detektif, diminta oleh mantan profesornya untuk menyelidiki surat kaleng salah alamat. Dalam menyelidiki kasus ini Akitada menjadi asisten profesor Hirata. Kesalahan pihak universitas di masa lalu yang dirahasiakan dan nyaris terlupakan muncul  dan mullai menimulkan konflik serta mengancam rusaknya nama universitas di masa yang akan datang.
   Penyelidikan kasus ini terjadi melibatkan tiga aksi pembunuhan dan tanpa keahlian yang dimiliki oleh Akitada, kasus tersebut tidak mungkin dapat terpecahkan. Kasus tersebut tidak hanya tentang seorang gadis penghibur yang tewas di daerah sekitar kampus tetapi juga mengungkap misteri dibunuhnya pengajar senior dan  menghilangnya seorang pangeran yang dianggap diangkat oleh dewa ke nirwana.
      Dengan bantuan orang kepercayaannya, tidak hanya nama baik Institusi yang terselamatkan tetapi juga keluarga kaisar. Tanpa ketelitian dan ketenangan yang  dimiliki oleh Akitada, misteri tidak dapat terpecahkan dan orang yang tidak bersalah bisa menjadi korban kelicikan orang lain.
    Berlatar Jepang abad ke-11, novel ini banyak mengajarkan kita tentang budaya dan pendidikan Jepang saat itu. Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang unik dan menarik untuk dipelajari. Selain tokoh dan alur yang menarik, beberapa sistem adat-istiadat Jepang saat itu dapat dilihat dengan cukup jelas.
     Novel ini memiliki cerita yang sangat kompleks dan membuat  awal cerita novel ini terkesan membosankan tapi di akhir cerita kita akan merasa bahwa cerita pemecahan misteri pada novel ini menjadi semakin seru dan penjelasan di awal cerita adalah pendukung yang tepat sehingga pemecahan misteri yang ditawarkan cukup logis.

Resensi buku/novel oleh Erwin Manurung

Selasa, 12 April 2016

Tiga Jalan Menuju Masa Keemasan

Judul                      : Taiko
Penulis                   : Eiji Yoshikawa         
Tanggal Terbit        : Oktober 2012
Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman      : 1.144 halaman


  Bagaimana jika seekor burung tak mau bernyanyi?
  Nobunaga menawab, "Bunuh saja!"
  Hideyoshi menawab, "Buat burung itu ingin berkicau."
  Ieyasu menawab, " Tunggu."
  
  Demikianlah sajak yang mewakili jalan tiga pemimpin besar pada saat mereka membawa Jepang menuju masa kejayaannya. Ketiganya lahir pada masa perang sipil di Jepang, masa yang penuh pertumpahan darah, tipu muslihat dan penghiatan.
  Buku ini menceritakan tentang perjalanan Toyotomi Hideyoshi, sang Taiko. Selain Hideyoshi, terdapat dua tokoh yang lainnya yang mempunyai mimpi yang sama dengan Hideyosi -memimpin seluruh Jepang. Mereka adalah Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Ketiganya mempunyai latar belakang yang berbeda dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda pula. Sajak tentang seekor burung yang tidak mau bernyanyi sangat tepat dalam mewakili jalan yang akan ditempuh ketiganya.
  Hideyoshi adalah anak seorang samurai miskin dari desa kecil di provinsi Owari, Nakamura. Ayahnya merupakan pengikut ayah Nobunaga. Ibunya tidak menginginkan dia mengikuti jejak ayahnya akan tetapi dia tetap ingin menjadi samurai, tidak perduli apapun yang menghalanginya. Hideyosi berbadan kurus dan memiliki wajah seperti monyet sehingga orang-orang sering memanggilnya dengan monyet. Kehidupan yang penuh derita membawanya bertemu dengan junjungan yang paling dia hormati. Junjungan tersebut adalah Oda Nobunaga.
  Nobunaga adalah putra penguasa Owari. Nobunaga memiliki watak ekstrim, penuh karisma, tetapi brutal. Dia adalah seorang yang sangat ahli membuat orang tunduk dengannya lewat peperangan. Kepada dia lah Hideyoshi mengabdi, dari menadi pelayan hingga menjadi Jendralnya. Dia adalah pemimpin yang berani bermimpi menyatukan semua bansa di Jepang dan berperang untuk mewujudkannya. Jalan yang dipilihnya sering bertentangan dengan keinginan orang dan menimbulkan penderitaan, tetapi setelah penderitaan itu timbul kebahagiaan.
  Peperangan yang dilalui oleh Nobunaga dan Hideyosi mempertemukan mereka dengan Ieyasu. Pemimpin klan Tokugawa yang menghabiskan masa mudanya sebagai sandra bagi provinsi lain, berkat Oda Nobunaga dia bisa kembali ke provinsi asalnya dan mulai mempersiapkan wilayahnya menghadapi arus perubahan. Kehidupan sebagai sandra membentuk Ieyasu menjadi seorang pemimpin yang sabar. Sikapnya sama seperti orang tua yang telah banyak memakan banyak asam garam meskipun usianya masih muda, lebih muda dibanding Hideyshi dan Nobunaga.
  Ketiganya saling bahu membahu, membantu Nobunaga menaklukan banyak wilayah di Jepang. Kekusaan Nobunaga semakin luas hingga ke Barat. Tetapi wilayah yang ditaklukan juga ditak sepenuhnya tunduk. Bahkan pengikut yang dianggap paling setia pun mau melakukan penghianatan. Hanya mereka yang dapat merasakan arah angin perubahan yang dapat memilih pihak yang akan menang.
  Hideyosi yang bisa membuat burung berhasil menyatukan seluruh Jepang dan membawa Jepang ke suatu masa yang disebut sebagai masa keemasan.Dia berubah dari seorang anak samurai miskin menjadi penual jarum, pelayan, samurai, hingga akhirnya menjadi sang Taiko - penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
   Perjalanan Hideyosi diceritakan dengan sangat menarik dan penuh dengan nilai-nilai moral yang disisipkan dengan sangat cerdas pada tiap percakapan maupun cerita tentang kejadian yang dialami para tokoh. Membaca buku ini tetunya memerlukan banyak watku karena cerita nya sangat panang, tetapi cerita tersebut sangat menarik dan waktu yang tersita pasti tidak akan sia-sia karena pelajaran yang diperoleh dari novel ini sangat banyak.

Resensi buku/novel oleh Erwin Manurung