Terik di siang itu membakar kerongkongan 32 orang muda-mudi. Keluh kesah pada si sombong mentari selalu ada dalam hati mereka bahkan mulutpun tak dapat menahannya lagi.
Pak Gay, Penjual Es Teh Manis veteran yang sudah lama vakum mencoba keberuntungannya kali ini di Taman Janji.
Hampir semua es teh manis yang disediakannya habis. Bukan hal yang mengagetkan, karena Siang itu membuat kenikmatan Es Teh sang veteran semakin menggiurkan.
Meski dijual dengan harga yang cukup mahal, mayoritas pengunjung tidak mempermaslahkannya.
Lain hal dengan Mas Parto. Harga yang ditetapkan baginya tidak masuk akal bahkan memprotes sang penjual. Wajar saja beliau protes karena sebagai mantan penjual Es Teh beliu tahu harga yang wajar bagi segelas es teh. Tapi Mas Parto hanyalah mantan. Perubahan yang ada setelah dia meninggalkan kekasihnya itu bukan lah perubahan yang sedikit. hanya saja hasrat yang tak tertahankan pada es teh manis Pak Gay memaksanya membeli meskipun dengan gelas yang lebih kecil
Pak Gay hanya bisa tersenyum melihat Mas Parto dengan pikiran melayang ke tukang tagih kredit termos es yang mungking sedang menunggu di depan pintu rumahnya