Minggu lalu menjadi
Minggu yang cukup emosional. Aku mengajak seorang teman untuk mencoba melakukan
suatu hal yang sangat menantang dan sangat baik baginya, baik kegagalan maupun
keberhasilan yang akan diperolehnya. Hal yang sangat sulit untuk mengajaknya. Begitu
keras aku memintanya bahkan sudah bisa dikatakan memaksa tapi dia sangat keras
kepala. Hingga suatu hari permintaan saya dijawabnya, akhirnya usaha keras
tidak dia-sia. Dia setuju melakukannya dan berkata kalau dia akan serius untuk
itu. Tapi beberapa hari lagi dia mengatakan tidak jadi. Tantangan itu tidak
bisa diambil lagi karena waktunya telah lewat. Betapa kecewa dan marah saya
saat itu.
Saat saya bertanya
alasannya membatalkannya, dia menolak untuk bercerita. Sangat susah mendapat
jawaban itu dan saya sangat emosi selama pembicaraan kami. Alasan itu sangat
susah diperoleh. Saya tidak mau menyerah dan membujuk-bujuk dia untuk bercerita.
Meskipun memakan waktu yang lama pada akhirnya apa yang saya cari ketemu juga. Dia
mengatakan itu semua karena dia akut gagal jika dia mencobanya.
Saya memikirkan hal
ini memang hal yang sering menjadi penghalang. Kemudian saya ingat kalau ada
istilah gagal sebelum bertanding. Saya mencoba mengeksplore istilah ini karena saya
merasa ini yang akan yang akan membantu saya dan dia. Saya tidak mungkin
mengatakan kau melakukan kesalahan tanpa ada alasan itu disebut sesuatu yang salah.
Saya kemudian
bertanya padanya, “Jadi, sekarang kau tidak lagi bisa gagal dalam tantangan
itu?”. Jawabannya adalah mungkin iya. Lalu saya lanjut bertanya “Bagaimana
kalau gagal itu berarti tidak menang, apakah kau menang kali ini? Jadi, kau
gagal Tidak?”. Saya mencoba memainkan kata-kata agar dia tidak melewatkan
kesempatan yang lain.
Kalau memang gagal
berarti tidak menang, maka saat ini kita adalah orang –orang gagal. Gagal dalam
banyak hal. Seperti menjadi presiden di Indonesia, ada juataan orang yang gagal
dalam hal ini karena yang menang hanya boleh satu orang saja dalam suatu waktu.
meskipun mereka tidak mencoba jadi presiden, yang pasti mereka tidak menang
menjadi presiden dan kalau gagal sama dengan tidak menang berarti mereka gagal.
Berarti saat ini
kita sedang gagal dalam banyak hal, tapi ada hal yang sudah dan akan kita
menangkan. Saat lahir ke dunia kita sudah menang dalam hal menjadi hidup
sebagai bayi namun banyak hal yang belum kita menangkan dan yang tidak bisa
kita menangkan lagi. Kita tidak bisa memenangkan semuanya karena waktu dan
ruang membatasi. Jadi kita harus memenangkan apa yang perlu kita menangkan,
orang menyebutnya tujuan, impian dan cita-cita. Hal yang belum kita menangkan
bisa menjadi tidak bisa dimenangkan lagi karena saat waktu memberi kesempatan
kita melewatkannya. Untuk saat ini belum ada orang yang bisa menjelajahi waktu,
yang berarti waktu sudah menutup kesempatan itu dan saat itu kita bisa disebut
gagal karena tidak memenangkannya. Untuk itu saat ada kesempatan kita harus
memenangkannya karena saat itu kita diijinkan menang, dari gagal menjadi
menang. Kita sudah gagal maka jadilah pemenang, daripada terus gagal. Menangkan
apa yang bisa dan perlu dimenangkan dan saat waktu mengijinkan jadilah
pemenang, tidak ada ruginya karena kalau gagal sama aja dengan tidak mencoba
atau bahkan lebih baik. Kenapa takut gagal kalau memang sudah dalam keadaan
gagal? Kenapa tidak mencoba jadi pemenang.
Hal yang kami
bicarakan ini bukan untuknya saja, saya juga berbicara pada diri saya sendiri
karena rasa takut akan gagal, padahal sudah gagal, juga menjadi penghalang
besar saya untuk melangkah maju dan melakukan banyak hal. Saya berharap kita
bisa menjadi pemenang dalam hal yang kita menangkan.
sumber gambar : http://www.lano.org/resource/resmgr/images/glassofwater.jpg