SEJARAH NATAL
Istilah natal memiliki arti yang
berbeda berdasarkan asal katanya. Dalam bahasa Inggris: Christmass) dipastikan
berasal dari kata Cristes maesse, sebuah
rasa dalam bahasa Inggris yang bersrti Mass of Christ (Misa Kristus), yang
berarti pengulangan peringatan penebusan tubuh dan darah Kristus. Sedangkan
dalam bahasa Portugis, kata natal berarti kelahiran.
Umat kristen pada abad pertama tidak merayakan natal seperti umat kristen saat ini. Bagi mereka lebih penting merayakan hari kematian Kristus, dikenal dengan paskah, dan tidak menghiraukan hari kelahiran-Nya. Tidak ada salahnya merayakan atau tidak merayakan natal sebab tidak ada perintah atau larangan untuk itu dalam kitab suci. Yang harus selalu kita ingat dan hayati setiap kali kita merayakan natal adalah karena dosa kitalah Yesus Kristus Lahir ke dunia (Mat. 1:21).
Umat kristen pada abad pertama tidak merayakan natal seperti umat kristen saat ini. Bagi mereka lebih penting merayakan hari kematian Kristus, dikenal dengan paskah, dan tidak menghiraukan hari kelahiran-Nya. Tidak ada salahnya merayakan atau tidak merayakan natal sebab tidak ada perintah atau larangan untuk itu dalam kitab suci. Yang harus selalu kita ingat dan hayati setiap kali kita merayakan natal adalah karena dosa kitalah Yesus Kristus Lahir ke dunia (Mat. 1:21).
Perayaan natal baru dimulai pada sekitar tahun 200M di Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesil menunjukkan tanggal perayaan natal adalah pada tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain perayaan natal dilakukan pada tanggal 5 atau 6 Januari dan ada pula pada bulan Desember. Perayaan natal pada tanggal 25 Desember dimulai Ata tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Tidak ada tanggal yang tepat yang menunjukkan hari kelahiran Yesus, hanya saja dalam penanggalan masehi ditetapkan bahwa hari raya natal adalah tanggal 25 Desember.
Tanggal 25 Desember adalah hari
raya penyembahan dewa matahari. Sejarah mencatat pada tanggal 25 Desember tahun
274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari, sebagai penutup festival
saturnalia dari tanggal 17-24
Desember, karena di akhir musim salju tanggal 25, matahari mulai kembali
menampakkan sinarnya dengan kuat. Tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari
tanda setia dewa matahari kembali ke Eropa, sehingga musim semi akan segera
tiba. Masyarakat Eropa begitu antusias merayakan hari penyembahan matahari
ini.
Perayaan berhala ini ditentang oleh
umat Kristen di Eropa pada waktu itu. Namun dengan adanya pengkristenan secara
massal oleh kaisar Konstantin yang memerintah Roma, maka semua rakyat Roma
harus menjadi Kristen, meskipun disaat yang sama masyarakat Eropa tetap
menyembah dewa matahari. Agama Kristen dijadikan agama Negara ketika Kostantin
menjadi Kaisar Romawi. Disinilah awal perusakan kekristenan dari dalam. Semua
masyarakat pada waktu itu menjadi Kristen bukan karena mereka bertobat dan
percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi karena perintah atau dekrit yang dikeluarkan
oleh Konstantin pada tahun 313 yang dikenal dengan edict of Milan. Barangsiapa
yang tidak mengindahkan perintah kaisar akan dihukum mati. Di sinilah cikal
bakal terbentuknya Gereja Roma Katolik yang diikuti oleh tradisi pembaptisan
anak.
Para pejabat, dukun, tukang sihir,
peramal dan penyembah berhala ikut-ikutan menjadi Kristen tanpa mengerti
kebenaran. Kenyataan ini mendorong para pemimpin gereja waktu itu mengalihkan
penyembahan berhala yang semula dirayakan pada tanggal 5 Januari oleh seluruh
masyarakat Eropa menjadi perayaan Natal Kristus, Pada tahun 354 AD, Gereja
Katolik di bawah pimpinan Paus Liberius, 25 Desember menjadi hari perayaan
lahirnya Yesus Kristus, menggantikan hari penyembahan dewa matahari. Perayaan
Natal pada tgl 25 Desember kemudian menjadi tradisi gereja Roma Katolik dan disusul
oleh sebagian besar umat Kristen di dunia sampai saat ini. Walaupun demikian dikalangan
kekristenan terdapat tiga kelompok dalam menyikapi soal Natal.
Ada kelompok yang terus merayakan
Natal setiap tanggal 25 Desember. Kelompok ini adalah tipe apa kata pimpinan
(sinode) ya, ikut saja. Ada juga kelompok yang tidak mau ikut-ikutan tradisi
yang diyakini salah dan tidak sesuai dengan Alkitab maupun sejarah. Kelompok
ini merayakan Natal di bulan Juni - Juli dan September dengan sangat sederhana
dan penuh khidmat. Dan kelompok yang ketiga adalah
kelompok yang sama sekali tidak mau merayakan Natal Kristus. Saksi Yehuwa dan
beberapa gereja memilih tidak merayakan Natal. Kelompok ini terburu-buru
mengambil kesimpulan sebelum meneliti kebenaran secara saksama. Mereka
tersandung dengan cara-cara orang Kristen pada umumnya yang merayakan Natal
dengan kemewahan dan pesta pora . Akibatnya mereka menyamakan semua
perayaan-perayaan Natal. Bahkan ada dari mereka dengan konyol menyamakan
perayaan kelahiran Yesus dengan perayaan ulang tahun kita, yakni bertambahnya
usia kita
Kita merayakan Natal bukan karena
umur Yesus bertambah lagi, tapi suatu ungkapan syukur bahwa Tuhan telah rela
menjadi manusia untuk menyelamatkan kita dari dosa. Dia Tuhan mau menjadi
manusia hina menanggung hukuman dosa-dosa kita. Tentu, ungkapan syukur ini
tidak hanya muncul ketika natal, melainkan setiap hari bahkan setiap saat kita
patut bersyukur bahwa Yesus telah lahir untuk kita. Hanya peristiwa yang
teramat penting ini akan sangat bermakna apabila seluruh orang percaya
merayakan bersama-sama kelahiran Kristus agar seluruh dunia mendengar dan tahu
bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat semua orang.
Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).
Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap (dewa) matahari: Solar Invicti (Surya tak Terkalahkan), dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai berita Alkitab (lihat Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10).
TRADISI NATAL
Banyak tradisi perayaan natal saat ini, yang merupakan pengembangan dan penyerapan dari berbagai budaya. Salah satunya adalah tradisi pohon natal. Pohon natal di gereja atau di rumah-rumah berhubungan dengan tradisi Mesir atau Ibrani kuno. Ada pula yang menghubungkannya dengan pohon khusus di taman Een. Tapi dalam kehidupan pra-Kristen di Eropa memang terdapat tradisi menghias pohon dan menempatkannya di dalam rumah pada perayaan tertentu. Tradisi ini berkembang dari Jerman pada abad ke-18.
Terdapat juga tradisi mengirim kartu natal. Diketahui tradisi ini berawal dari Inggris yang dimulai oleh John Callcott Horsley pada tahun 1843. Tradisi ini ditandai dengan mengirim kartu yang berisi gambar tentang kelahiran Yesus Kristus dan berisi ucapan selamat natal. Seiring dengan berkembangnya teknologi tradisi ini sering dilakukan dengan mengirim email yang berisi ucapan selamat natal.
Tradisi yang sering menggambarkan
natal dan sering dianggap sebagai ikon batal adalah tradisi sinterklas. Tradisi
ini berhubungan dengan tokoh legenda St. Claus (Santo Nikolas) yang datang ke
rumah orang dengan kereta salju yang ditarik oleh rusak kutub dan membawa Hadi
bagi anak-anak dimalam natal. Tradisi ini hampir sama dengan tradisi saling
bertukar Hadi yang sering dilakukan pada malam natal.
Saat natal bahkan sebelum atau
sesudahnya sering terdengar lagu-lagu natal. Lagu-lagu yang berisi ucapan
syukur dan kekaguman seseorang terhadap natal. Lagu tersebut juga sebagai cara
orang untuk membagi kebahagiaan pada saat natal.
Pada hari natal juga terdapat
tradisi beramal. Dimana orang-orang berbagi dengan sesama, seperti musisi yang
bernyanyi dan menyumbangkan hasilnya untuk orang lapar atau terkena penyakit.
Di Indonesia pada hari natal ada pemotongan masa tahanan atau remi bagi
narapidana. Bahkan pada saat Natal, perang pun dihentikan.
Pada malam natal juga banyak dijumpai lampu-lampu natal. Hal ini juga ikut ambil bagian dalam tradisi natal dan menyemarakkannya. Sama seperti lilin juga yang sering dibakar saat natal dan menerangi malam natal. Tradisi ini melambangkan Yesus Kristus sebagai cahaya yang menerangi kegelapan
Di Timur perayaan Natal banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.
Pada malam natal juga banyak dijumpai lampu-lampu natal. Hal ini juga ikut ambil bagian dalam tradisi natal dan menyemarakkannya. Sama seperti lilin juga yang sering dibakar saat natal dan menerangi malam natal. Tradisi ini melambangkan Yesus Kristus sebagai cahaya yang menerangi kegelapan
Di Timur perayaan Natal banyak mengandung aspek rohani seperti puasa, bermazmur, membaca Alkitab, dan puji-pujian. Di Gereja-gereja Arab, boleh dibilang tidak ada perayaan Natal tanpa didahului puasa. Gereja Ortodoks Syria melakukan persiapan Natal dengan berpuasa selama 10 hari. Sementara di Gereja Ortodoks Koptik puasanya lebih lama lagi, yaitu sejak minggu terakhir November. Jadi, sekitar 40 hari. Waktu iftar (buka puasa) pada tanggal 7 Januari pagi. Puasa pra-Natal ini disebut dengan puasa kecil (Shaum el-Shagir). Meskipun agak berbeda dalam tradisi, secara prinsip cara ini tidak jauh berbeda dengan cara berpuasa Gereja-gereja Orthodoks lain.
MAKNA NATAL BAGI
UMAT KRISTIANI
Menurut Lukas, Maria mengetahui
dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh
Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf
meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke
kota Betlehem untuk mendaftar dalam sensus yang
diperintahkan oleh Agustus, Kaisar Romawi pada saat itu. Karena mereka
tidak mendapat tempat untuk menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di
sebuah palungan (malaf). Kelahiran Kristus di Betlehem
Efrata, Yudea, di kampung halaman Daud, nenek moyangYusuf, memenuhi
nubuat nabi Mikha (Mikha 5:1-2). (Di Israel purba mereka
mengenal ada dua kota Betlehem, kota Betlehem satunya lagi berada di
tanah Zebulon.)
Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih ke kedatangan orang-orang majus dari Timur -- yang diduga adalah Arabia atau Persia -- untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan. Orang-orang bijak tersebut mula-mula tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung, bahwa mereka telah melihat sebuah bintang -- yang sekarang disebut Bintang Betlehem -- menyambut kelahiran seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika bermalam, orang-orang majus itu mendapatkan mimpi yang berisi peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari tindakan Raja Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Betlehem untuk menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya. Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari Mesir, tetapi untuk menghindar dari raja Yudea baru (anak Herodes Agung, yakni Herodes Arkhelaus) mereka pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.
Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada para gembala. Dalam Injil Matius dicatat bahwa ada orang-orang Majus dari Timur datang ke Yudea karena melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti bintang itu hingga ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Mula-mula orang-orang Majus itu bertanya-tanya kepada penduduk Yerusalem, kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes. Raja Herodes bertanya kepada ahli kitab, di mana Mesias akan dilahirkan. Berdasarkan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan informasi ini dipakai untuk membantu para orang majus mengetahui letak di mana Yesus dilahirkan. Herodes minta akan setelah bertemu bayi itu agar mereka kemudian dapat melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena mengetahui niat Herodes yang jahat , para orang majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.
Matius mencatat silsilah dan kelahiran Yesus dari seorang perawan, dan kemudian beralih ke kedatangan orang-orang majus dari Timur -- yang diduga adalah Arabia atau Persia -- untuk melihat Yesus yang baru dilahirkan. Orang-orang bijak tersebut mula-mula tiba di Yerusalem dan melaporkan kepada raja Yudea, Herodes Agung, bahwa mereka telah melihat sebuah bintang -- yang sekarang disebut Bintang Betlehem -- menyambut kelahiran seorang raja. Penelitian lebih lanjut memandu mereka ke Betlehem Yudea dan rumah Maria dan Yusuf. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada bayi Yesus. Ketika bermalam, orang-orang majus itu mendapatkan mimpi yang berisi peringatan bahwa Raja Herodes merencanakan pembunuhan terhadap anak tersebut. Karena itu mereka memutuskan untuk langsung pulang tanpa memberitahu Herodes suksesnya misi mereka. Matius kemudian melaporkan bahwa keluarga Yesus kabur ke Mesir untuk menghindari tindakan Raja Herodes yang memutuskan untuk membunuh semua anak di bawah dua tahun di Betlehem untuk menghilangkan saingan terhadap kekuasaannya. Setelah kematian Herodes, Yesus dan keluarga kembali dari Mesir, tetapi untuk menghindar dari raja Yudea baru (anak Herodes Agung, yakni Herodes Arkhelaus) mereka pergi ke Galilea dan tinggal di Nazaret.
Sisi lain dari cerita kelahiran Yesus yang disampaikan oleh kitab Injil Lukas adalah penyampaian berita itu oleh para malaikat kepada para gembala. Dalam Injil Matius dicatat bahwa ada orang-orang Majus dari Timur datang ke Yudea karena melihat sebuah bintang yang besar bersinar di atas wilayah Yerusalem. Mereka mengikuti bintang itu hingga ke kota Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Mula-mula orang-orang Majus itu bertanya-tanya kepada penduduk Yerusalem, kemudian mereka dibawa menghadap raja Herodes. Raja Herodes bertanya kepada ahli kitab, di mana Mesias akan dilahirkan. Berdasarkan Alkitab, Mesias akan dilahirkan di Betlehem dan informasi ini dipakai untuk membantu para orang majus mengetahui letak di mana Yesus dilahirkan. Herodes minta akan setelah bertemu bayi itu agar mereka kemudian dapat melaporkan kepada Herodes. Tetapi karena mengetahui niat Herodes yang jahat , para orang majus tidak kembali melaporkan kepada Herodes.
Lukas 2 : 1-10 : Lalu kata malaikat
itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu
kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus Tuhan, di kota Daud.
Pada saat kelahiran Yesus ke dunia, malaikat Tuhan datang untuk menyampaikan kabar sukacita. Berita yang mengatakan bahwa Juruselamat telah lahir. Berita tersebut menjadi sukacita yang besar karena benar adanya. Pada malam itu Yesus benar-benar lahir di Betlehem dan akan menyelamatkan umatnya dari belenggu dosa. Kelahiran Yesus menjadi suka cita karena saat itu Lay saat yang sangat dinanti-nanti oleh umat Israel, penggenapan dari nubuat para nabi dan janji-janji Allah.
Kabar yang dibawa oleh malaikat adalah kabar sukacita untuk segala bangsa, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Apa yang dikatakan oleh malaikat itu adalah suatu kebenaran dan memenuhi nubuat para nabi. Pada saat itu Juruselamat yang akan melepas manusia dari belenggu dosa lahir.
Natal adalah kesukaan besar bagi segala bangsa. Manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh seorang Juruselamat yang baru lahir, Yesus Kristus, serta memberikan kita hidup kekal. Karena itu kita patut bersuka cita dan mengundang setiap orang untuk menerima kasih tersebut.
Pada saat kelahiran Yesus ke dunia, malaikat Tuhan datang untuk menyampaikan kabar sukacita. Berita yang mengatakan bahwa Juruselamat telah lahir. Berita tersebut menjadi sukacita yang besar karena benar adanya. Pada malam itu Yesus benar-benar lahir di Betlehem dan akan menyelamatkan umatnya dari belenggu dosa. Kelahiran Yesus menjadi suka cita karena saat itu Lay saat yang sangat dinanti-nanti oleh umat Israel, penggenapan dari nubuat para nabi dan janji-janji Allah.
Kabar yang dibawa oleh malaikat adalah kabar sukacita untuk segala bangsa, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Apa yang dikatakan oleh malaikat itu adalah suatu kebenaran dan memenuhi nubuat para nabi. Pada saat itu Juruselamat yang akan melepas manusia dari belenggu dosa lahir.
Natal adalah kesukaan besar bagi segala bangsa. Manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh seorang Juruselamat yang baru lahir, Yesus Kristus, serta memberikan kita hidup kekal. Karena itu kita patut bersuka cita dan mengundang setiap orang untuk menerima kasih tersebut.
Walaupun natal adalah sukacita,
namun natal bukanlah berarti kemewahan. Anak Alllah yang kudus lahir bukan di
ibu kota Israel, Yerusalem, namun di kota kecil bernama Betlehem. Dia juga
tidak lahir di Istana melainkan di kandang domba. Selain itu, berita
kelahirannya pertama kali bukan diberitahukan kepada Raja, Nabi ataupun orang
besar, namun kepada gembala yang dianggap sebagai kaum yang paling rendah saat
itu.
Tidaklah salah untuk memberikan
yang terbaik untuk merayakan natal, namun jangan melupakan makna natal itu
sendiri. Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang hilang.
Untuk itu kita harus memberitakan kabar sukacita ini kepada orang-orang yang
belum mengenal Juruselamat.
Natal
sejatinya adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. Bahwa Allah mau menjadi
manusia untuk menyelamatkan setiap kita yang berdosa. Dia menggantikan posisi
kita dan menghapuskan setiap dosa kita, memberikan kepada kita kehidupan yang
baru di dalam kerajaan-Nya. Inilah inti Natal. Ada banyak cara untuk memaknai kabar
baik Natal. Banyak tradisi yang tercipta untuk perayaan Natal, namun yang
terpenting adalah jangan sampai kita melupakan makna natal itu sendiri.
references:
https://bible.org/seriespage/christmas-1999-joy-christmas-luke-210-11
http://www.yhs.net/arti-natal-sebenarnya/
http://tuhanselalubukajalan.blogspot.com/2011/12/christmas-letter-makna-natal.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Natal
https://chatolic.wordpress.com/2010/12/23/natal-kristus/
http://www.abbalove.org/