Sekarang Apa?
Hari yang cukup
melelahkan bagi saya karena harus berjalan kaki beberapa kilometer dengan teman
saya hanya untuk mendapatkan beberapa buah jeruk, sungguh menjengkelkan
menurutku. Karena perjalanan yang cukup melelahkan, saya pun mengajak teman
saya pergi ke perpustakaan. Istirahat sejenak di sudut perpustakaan akan
mengembalikan tenaga untuk jalan lagi.
Saat duduk di sana
saya mengambil sebuah buku untuk dibaca sambil bersantai di sudut perpustakaan.
Buku tersebut menceritakan biografi singkat Steven Spielberg, sutradara yang
sangat luar biasa di Hollywood.
Bagi beberapa orang
masalah perfilman adalah hal yang cukup menarik untuk di ikut tapi bagi saya
pribadi hal tersebut tidaklah menarik. Bagi saya buku itu hanya pemancing untuk
tidur saja tapi usaha saya dalam memancing kali ini gagal. Cerita dalam buku
itu cukup kuat untuk membuat saya tetap terbangun dan mengikutinya. Hal yang
membuat saya menarik bukan masalah film atau uang yang dihasilkan oleh film-film
yang dibuat oleh Steven tetapi bagaimana seorang anak yang masih muda dapat
mengenal dirinya dan mengembangkannya dengan baik.
Memiliki seorang
ayah yang bekerja dan bisa dibilang sukses di bidang elektro tidak mempunyai
ketertarikan untuk mengikuti jejak ayahnya, begitu juga halnya dengan ibunya
yang hobi bermain musik. sungguh hal yang sangat susah untuk menentukan tujuan
jika berada di posisinya.
Steven memiliki
imajinasi yang sangat liar dan sering mengganggunya siang dan malam. Hal-hal
yang sangat mengerikan datang ke dalam kehidupannya, hal yang diciptakannya
sendiri. Hal yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dia mengatasi ciptaannya
tersebut dan kapan hal itu akan berakhir.
Saat yang tepat pun
datang. Saat di mana dia akan mendapatkan apa yang benar-benar dia butuhkan
saat itu, saat ketika dia mendapatkan video kamera dari ayahnya. Saat ketika
dia akan mengatur dan memanfaatkan imajinasinya itu. Dia mulai membuat film
bersama teman-temannya dan menghabiskan uang tabungannya sehingga dia mencari
investor, yaitu ayahnya sendiri. Film yang dia produksi dengan kesederhanaan cukup
bagus dan bisa dia mulai mendapat untung dengan memutar filmnya kepada
teman-teman ayahnya. Sebuah langkah awal yang cup baik.
Ketertarikannya terhadap
dunia perfilman semakin lama semakin menjadi-jadi. Dia bahkan rela melompat
dari trem dan menjadi penyusup untuk bisa masuk ke Universal Studio. Usaha dan
ketertarikannya itu membawa dia menjadi sutradara yang besar. Meski menemui
beberapa kegagalan dia terus bangkit dan menjadi sutradara yang luar biasa dan
memproduksi banyak film yang sangat sukses.
Ketika Steven
menemukan apa yang dia tunggu, meskipun saya tidak tahu apakah apa yang dia
tunggu tersebut memang kamera, dia langsung memanfaatkannya dan membuatnya
menjadi jalan kesuksesan. Dengan disiplin dan konsistensi yang Ia miliki, Ia menggenggam masa depan.
Sekarang apa?